PERTANYAAN SEDERHANA

0

“Ayah, mengapa kakek begitu kaya?”

Sebaris kalimat sederhana itu lebih terasa seperti meriam perang yang dilontarkan tepat menjurus ke dadanya daripada sebuah pertanyaan. Susunan kata-kata polos yang terucap dari anak berumur 5 tahun membuat bahu ini menyender, tak kuasa menahan kisah yang terlalu berat untuk diuraikan.

***

“Ayah, mengapa engkau selalu membelikan anak-anak itu es krim? Makan sehari-hari kita saja sudah susah, giliran anak orang lain saja kemauannya dituruti!”

Kalimat pedas itu terlontar dari bibir bocah laki-laki sekitar kelas 1 SD kepada ayahnya yang hanyalah seorang pedagang es krim keliling seadanya. Pahit, tapi itulah kebenaran yang memang terjadi di keluarganya –ia sering membelikan anak-anak kampung es krim, sedangkan keluarganya hanya makan nasi dan garam– yang tinggal di sebuah kampung kecil, jauh dari perkotaan. Bocah laki-laki itu berlari masuk ke rumahnya, mungkin lebih tepatnya bangunan dari rotan yang sudah peyot menunggu umur untuk jatuh mencium tanah. Miris, tapi itulah kenyataannya.

Anak laki-laki itu bernama Ken, duduk di atas kasurnya –yang juga merupakan kasur kedua orangtuanya– sambil berusaha mengusap air yang ingin menetes keluar dari matanya. Ibunya hanya meliriknya dari dapur, bersikap seperti hal tersebut sudah biasa terjadi, dan meneruskan kembali pekerjaannya, mencuci baju orang di kampungnya demi mendapatkan uang lebih. Sang ayah melangkah memasuki rumah, melepas topi yang sedari pagi ia pakai dan mengelap peluh keringatnya yang tak henti-henti mengucur. Ia duduk di depan anaknya, merangkulkan lengannya yang kemudian dengan cepat ditepis anaknya.

“Ayah memang tak pernah sayang padaku. Kita ini miskin! Tapi ayah masih saja membantu orang-orang itu, buang-buang uang, bantu anak ayah pun tak pernah!” Air mata tak bisa dibendung, tapi sekali lagi, inilah kenyataannya.

“Kita ini kaya, nak.” Ayahnya hanya tersenyum tulus sambil mengusap wajah anaknya yang memerah karena menangis terisak-isak. “Ketika kamu berbagi dengan sesama, maka kamu akan semakin kaya.” Ibunya datang dari dapur, memukul ringan penggorengan yang baru ia cuci sambil berkata,

“Lain kali dengarkan kata anakmu! Hidup susah masih sok-sok menolong orang lain. Kerja sana yang bener, dapat uang banyak, belikan anakmu seragam yang layak. Realistis sedikit, kebanyakan filosofi!”

“Suatu saat kamu akan mengerti, Ken.”

Hari ini ayah Ken berjalan pulang lebih cepat dari biasanya, tersenyum lebih lebar dari biasanya, dan lebih bahagia dari biasanya. Tak sabar ia menemui istri dan anaknya di rumah dan menyampaikan kabar gembira. Sambil berlari kecil ayahnya melepas sandalnya dan mencari keluarganya di dalam rumah.

Kosong. Rumah lebih sunyi dari biasanya. Barang-barang yang biasa menghiasi rumah kecilnya sudah tak ada. Tumpukan baju titipan yang biasanya menunggu disetrika juga tidak ada. Ayah Ken melangkah perlahan dan menemukan istrinya sedang memasukkan barang-barang ke tas besar, tas yang biasa ia gunakan saat pulang kampung.

“Aku pergi. Bersama Ken. Mencari sosok yang lebih pantas dan lebih peduli dengan keluarganya. Dan juga lebih berada. Aku capek hidup miskin.”

Begitulah perpisahannya. Satu percakapan mengakhiri semuanya. Ken dan ibunya pergi meninggalkan rumah tua mereka, meninggalkan desa, dan meninggalkan sesosok lelaki yang hanya terdiam tanpa kata, patah hati.

Sampai di kota, mereka tinggal di rumah teman ibu Ken. Hari-hari terasa lebih manis, makan nasi dengan lauk tiga kali dalam sehari. Tapi nasib memang tak pernah sebaik itu. Ken harus menerima kalau hidup tak semudah itu di umur yang terbilang muda. Lama-kelamaan Ken diperintahkan ibunya untuk mengamen di jalanan, mengemis, atau apapun yang mengharuskan Ken membawa uang tiap malamnya. Untuk disetorkan pada ibunya, untuk mendapatkan jatah makan hari itu.

Setahun hidup dengan cara seperti itu, Ken menjadi pengamen yang lebih bebas dari sebelumnya. Iya, lebih bebas. Karena ibunya tanpa sepengetahuan Ken, diperistri oleh teman yang selama ini memberinya tempat bernaung. Karena ketika Ken pulang sehabis mengamen, rumah itu gelap, terkunci, seperti tak pernah ada yang bernafas disana. Ibunya  dengan tega meninggalkan anak itu sendirian, di kota orang, tanpa siapa-siapa.

Makan debu jalanan, tidur beralaskan tanah, menghirup asap kendaraan adalah hidupnya yang baru. Sesekali saat terbesit kebencian kepada ayahnya yang tak pernah peduli padanya, ibunya yang terlampau tega, penat kepalanya. Tapi semua sudah berbeda. Menyambung kehidupanlah yang ia harus pikirkan. Kehidupan kerasnya ini berlanjut terus sampai bertahun-tahun ke depan.

Hari ini hasil mengamen berlebih dari setoran yang harus Ken berikan pada bos barunya. Sebagai penghargaan untuk dirinya sendiri, ia melangkahkan kakinya yang tak beralas ke supermarket terdekat. Menuju ke cooler box dan meraih Keis ice cream, es krim terpopuler kala itu. Ken sering melihat anak-anak sekolahan menyantap es krim itu saat pulang sekolah. Kini akhirnya ia dapat merasakannya sambil duduk memandangi mobil truk besar berlogo sama yang sedang membongkar muatan. Dari balik mobil itu lelaki berpakaian rapi yang sedari tadi mengamati jalannya proses distribusi, perlahan mendekat padanya dan tiba-tiba memeluknya.

Hatinya bergemuruh ketika mengetahui lelaki itu adalah ayahnya, ia masih sama, seorang penjual es krim. Tapi lebih tegar, lebih teguh, entahlah… dan lebih hebat. Teringat masa kecilnya ia selalu berprasangka buruk kepada ayahnya, membentak, bahkan membenci ayahnya. Tapi ternyata orang yang dibencinya sekarang membuat kakinya tak sanggup menopang tubuhnya yang lesu dan malu karna haru dan penyesalan. Percaya tak percaya, orang hebat yang sehari-hari menyantap nasi, garam, dan teriakan keluarganya sekarang bisa berjajar dengan orang terkaya di Indonesia. Secercah harapan akhirnya lahir kembali. Kerut itu akhirnya terlihat kembali di wajah Ken, senyum yang telah lama hilang.

Ken tinggal bersama ayah kandungnya sekarang, hidup dalam mimpinya selama ini, bersekolah dengan layak. Tumbuh menjadi pemuda hebat, yang tangguh hati, kuat, dan cerdas. Menjadi dosen di universitas ternama, menemukan belahan hatinya dan semua kehidupannya tidak akan bisa menjadi lebih baik lagi.

***

“Ayah, mengapa engkau selalu membelikan anak-anak itu es krim? Makan sehari-hari kita saja sudah susah, giliran anak orang lain saja kemauannya dituruti!”

Sore itu harusnya sore yang indah, pikirnya. Saat pada akhirnya resep es krim buatannya sendiri telah siap. Tak ada lagi komentar buruk atau saran dari anak-anak desa, semua mengatakan bahwa es krim buatannya sangat enak dan mereka sangat menyukainya. ‘Membelikan anak-anak itu es krim’ selama ini adalah pemilihan kata yang salah. ‘Meminta tolong anak-anak itu mencoba resepnya dan memberi feedback’ adalah pernyataan yang lebih tepat. Dari hari kehari ayah Ken terus memperbaiki rasa es krimnya berdasar kritik anak-anak setiap sore. Dan sore itu es krimnya telah sempurna. Ia siap memberi tahu keluarganya tentang project kecilnya, dan meminta dukungan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai penjaja es krim dan memulai wirausaha. Tapi sekali lagi, nasib tidak pernah baik.

“Aku pergi. Bersama Ken. Mencari sosok yang lebih pantas dan lebih peduli dengan keluarganya. Dan juga lebih berada. Aku capek hidup miskin.”

Begitulah perpisahannya. Satu percakapan mengakhiri semuanya. Ken dan ibunya pergi meninggalkan rumah tua mereka, meninggalkan desa, dan meninggalkan sesosok lelaki yang hanya terdiam tanpa kata, patah hati.

Dan waktu serasa berjalan lebih lambat, sangat. Setiap detiknya terasa begitu sakit. Tetesan air dari keran yang rusak tak pernah terdengar sebegitu menyesakkan. Dan kicauan burung gereja tak pernah menyayat sebegitu dalam. Menarik nafas pun tak pernah seberat ini. Kalimat-kalimat dari Ken dan ibunya terngiang-ngiang di telinganya. Ia rasa ia mulai gila.

Rumah itu terlihat seperti tak berpenghuni, tak ada aktivitas disana. Setidaknya itulah yang terlihat dari luar. Berita Ken dan ibunya yang pergi telah menjadi buah bibir di desanya. Tapi tak ada satu pun yang pergi mengunjungi ayah Ken untuk sekedar menghibur. Mereka semua meninggalkan ayah Ken menyesali apa yang selama ini ia perbuat. Kejutan yang tadinya ia persiapkan untuk menyenangkan keluarganya, berakhir menjadi bumerang yang menyerangnya balik. Ayah Ken terus berbaring di atas kasur. Tak berbuat apa-apa. Terlalu sedih untuk sekedar memberi makan burung-burung yang tiap pagi hinggap di pekarangannya. Terlalu sedih untuk melangkah, terlalu sedih untuk memulai hari, terlalu sedih untuk hidup.

Terlalu lama bersedih, terlalu lama sendiri, terlalu lama tidak masuk bekerja, terlalu lama tidak melakukan apapun, ia resmi dipecat. Hidupnya semakin kosong, tapi ia tak peduli, ia tak bisa merasa lagi.

“Ayah Ken! Bolehkah aku meminta es krim itu lagi? Untuk adikku, tolong.”

“Ayah Ken! Adikku terus menangis, aku mohon, keluarlah dari rumah, tuan.”

“Ayah Ken…”

Entah gerakan apa ini tapi ayah Ken keluar membawa sebatang es krim yang tersisa. Memberikannya kepada anak yang sedaritadi menunggunya di depan pintu. Mengucap terimakasih, ia berlari ke adiknya yang memang benar, sedang menangis. Adiknya baru saja terjatuh dari sepeda, lukanya lumayan parah. Tapi ketika mendapat es krim dari kakaknya, anak itu seakan lupa ia baru saja jatuh, seakan lupa seberapa sakit luka yang ia rasakan.

Begitulah yang harusnya es krim itu lakukan untuk ayah Ken. Harusnya es krim itu dapat membuat ayah Ken lupa bahwa ia baru saja jatuh, baru saja merasakan sakit yang teramat dalam. Dan begitulah kejadiannya. Sejak itu, ayah Ken bekerja lebih keras dari biasanya, lebih tekun dari sebelumnya. Tujuannya satu, apabila ia sukses nantinya, ia bisa pergi ke kota dan mencari serpihan hatinya, keluarga kecilnya akan berkumpul kembali dan menerimanya sebagai orang yang berbeda.

Keis Ice Cream dinamai berdasar kata Ken dan Lilis. Nama anak kesayangannya, dan istrinya yang telah lama meninggalkannya dan bahkan mengkhianatinya. Motivasinya untuk bangkit dari kesedihannya. Dan ia bangkit, bahkan melejit menjadi orang berhasil. Ia bukan saja berhasil dalam karirnya, tapi berhasil bangkit dari keterpurukannya, di saat tak ada bahu untuk bersandar.

***

Dan hari itu pun tiba. Entah harus senang atau sedih ia pun tak tahu. Entah harus melangkah ke rumah sakit atau ke pemakaman lebih dahulu. Detak detik jam tak pernah semencekam itu seumur hidupnya. Ken kehilangan sosok lama yang sangat berjasa sangat membekas di hatinya dan sekaligus kedatangan sosok baru dalam hidupnya. Selamat tinggal ayah yang hebat, tekun, dan pantang menyerah, dan oh ya, pemaaf. Selamat datang anakku sayang, insan penerus kakeknya yang begitu kuat.

Harapan Ken bertumpu pada insan itu, Gilang namanya. Semoga hidupnya akan menuai sukses besar seperti kakeknya, semoga hidupnya akan penuh kegemilangan.

***

Gilang, anak semata wayang Ken, duduk termangu menunggu ayahnya –yang sedang tenggelam dalam memori masa lalunya, yang entah adalah memori baik atau buruk– menjawab pertanyaan singkatnya. Dan waktu penantiannya usai,

“Karna hidupnya keras bagai batu, terkikis terus menerus tapi tak pernah goyah. Ketika ia berbagi, ia menjadi kaya,”

Anakku hanya melongo memandangku yang menjawab pertanyaannya hanya dengan satu kalimat. Mantap, pasti, dan dengan tepat mewakilkan seluruh kisah hidup ayahku. Dan memang benar adanya, memang itu kenyataannya.

“Suatu saat kamu akan mengerti, Nak.”

 

Advertisements

Good Bye

0

Mobil hitam mengkilap berhenti di depan pagar sebuah rumah megah. Langsung saja seorang pelayan datang dan membukakan pagar. Mobil itu masuk. Seorang anak berambut panjang turun dari mobil itu. Seorang pelayan kembali menghampirinya dan membawakan tas sekolahnya.

Kenalkan, anak berambut panjang itu aku. Namaku adalah Mona. Aku memang seorang anak dari orangtua yang kaya raya. Kedua orang tuaku orang sibuk. Mereka jarang ada di rumah. Terkadang, aku merasa kurang kasih sayang. Sudahlah, itu tidak usah dipikirkan.

“Nona, makanan telah dihidangkan. Silahkan ke ruang makan,” ajak salah satu pelayan.

“Hah? Makan? Uh, sorry ya!” jawabku sambil berlari ke kamar tidurku.

Asal kalian tahu,ya. Aku ini amat teramat tidak suka dengan yang namanya ‘makan’. Entah kenapa, bawaannya sudah malas duluan. Mungkin itulah yang membuatku tidak gemuk (kurus). Aku berbaring di tempat tidur. Sesaat kemudian, handphone-ku bordering. Ada sms masuk.

Mon, jangan lupa lusa. Jangan telat

-Lisa-

Oh, iya! Lusa,kan ada ‘baksos (bakti sosial)’ . Paling males ikutan baksos. Pasti nanti ke tempat – tempat kumuh yang panas. Euh, bisa-bisa aku jadi alergi. Aku harus cari alasan supaya lusa tidak ikut baksos. Berpikir, berpikir, berpikir *satu jam telah berlalu*, ya! Aku tahu. Aku akan beralasan banyak les atau sakit kepada Lisa. Dan aku tidak akan ikut. Aku segera menelpon Lisa dan membicarakan tentang ‘les-les’ku. Tiba-tiba, papaku membuka pintu kamarku. Aku kaget dan mematikan teleponku. Rupanya, papa mendengar semua percakapanku. Akhirnya papa menyuruhku untuk izin dari les. Aku hanya bisa pasrah.

***

Persis seperti yang ku bayangkan. Di tempat baksos ini puanaasss banget. Gerah. Kalau begini, kulitku bisa jadi hitam. Sudah jam 3 sore, belum selesai juga. Aku beralasan ke toilet. Padahal, aku mencari tempat berteduh. Aku berjalan mendekati pohon rindang. Tapi, aku menabrak seseorang. Ia cantik, tapi kumuh sangat. Dia memandang lapar roti yang ku genggam. Aku menyodorkan roti itu. Dia mengambilnya dengan tidak percaya. Aku meyakinkannya sampai akhirnya dia mau mengambil roti itu. Dia sampai bersujud di kakiku. Aku heran sekali saat melihat dia makan dengan lahap. Padahal, aku sendiri malas memakannya.

***

Aku sekarang sudah bernafsu makan. Ini semua karena persahabatanku dengan anak cantik itu. Namanya Griselda. Dia membawa pengaruh positif terhadapku. Dia sering ku ajak ke rumahku. Dia ku berikan barang-barang baru supaya dia bisa hidup normal. Dia juga aku ajari membaca. Supaya dia bisa sekolah lagi. Dia baik sekali. Aku sungguh tidak pernah menyangka punya sahabat sebaik dia.

***

Rencananya, Griselda akan datang ke rumahku sore ini. Aku berjanji akan mengajarkannya bahasa Inggris. Aku menunggunya lama sekali. Dia belum datang juga. Tiba-tiba, rumah sakit ‘Hidup Sehat’ menelponku. Aku heran. Ada perlu apa? Aku mengangkat telponnya. Sesaat kemudian aku menjatuhkan gagangg telpon. Aku menitikkan air mata. Ada apa? Griselda ada di rumah sakit dengan keadaan yang mengkhawatirkan. Dia ditemukan di tengah jalan. Aku meminta supir mengantarkan aku ke rumah sakit. Aku mencari dokter yang memeriksa Griselda. Aku juga membayar administrasinya dulu, supaya bisa bertemu Griselda. Kemudian, aku diantar suster ke ruangan dokter. Dokter memberitahuku bahwa Griselda kekurangan gizi. Dan Griselda terlalu bekerja keras sehingga kelelahan serta lapar. Ternyata, Griselda bersusah payah mengumpulkan uang supaya bisa memberikan kado ulang tahun padaku besok. Aku kembali menangis tak percaya saat dokter bilang, ‘Griselda sudah pergi untuk selamanya’. Aku meminta dokter mempertemukan aku dengan Griselda untuk yang terakhir kalinya. Aku hanya menatapnya dari kaca ruangan. Aku tidak kuat membendung air mataku. Aku tidak pernah menyangka, sahabatku itu pergi lebih dulu. Sahabatku yang membuat hidupku berubah. Berkat dia, aku jadi seperti sekarang ini. Berbeda dengan yang dulu. Seekali lagi aku melihat sahabatku itu tersenyum cantik. Mungkin dia masih menantikan janji terakhirku. Untuk mengajarinya bahasa Inggris. Dan sekarang, dia mendapatkannya. Kalimat bahasa Inggris pertama dan terakhirnya : Good bye…

Nothing is Perfect

2

Aku selalu membayangkan seseorang yang sempurna. Ia yang baik hati, pintar, sopan, kaya raya, cantik, postur tubuh bagus, pokoknya yang perfect banget deh! Aku berusaha mencari orang itu. Inilah kisah tentang pencarianku.

-Melanie-

Aku berkenalan dengan seseorang yang bernama Melanie. Dia cantik sekali. Aku berusaha mencari asal-usulnya. Aku mencari di facebook. Aku tulis: Melanie Kiley. Ada! Aku senang sekali. Aku meng-add dia. Lalu aku melihat-lihat wall-nya. BAnyak ucapan selamat. Ternyata, dia mendapat juara umum pertama di sekolahnya. Aku semakin bersemangat. Aku ingin ber-chatting dengannya. Kuharap dia online. Aku menunggu agak lama. Akhirnya Melanie menyapaku di facebook:

Melan: Hai, makasih udah nge-add

Aku: YA, sama-sama. Eh, ngomong-ngomong… aku mau tanya sesuatu nich

Melan: Apa?

Aku: Aku ingin ke rumahmu. Dan bertemu dengan keluargamu

Melan: Jangan!!!!!!!! tolong jangan!

Aku: kenapa?

Melan: Tapi, kamu janji ya, untuk tidak bilang siap-siapa

Aku: iya, trus kenapa?

Melan: Sebenarnya aku tinggal bersama nenek-kakeku. Orangtuaku sudah bercerai sejak lama. Aku sendiri juga rindu dengan mereka…

Aku: ouh, maaf kalau begitu. Aku sama sekali tidak tahu. Ya, sudah aku off dulu,ya… bye!

Tak kusangka. Aku langsung melihat info-nya di facebook. Dia bersekolah di sekolah yang tidak terlalu bagus. Biasa saja. Pantas. Ya, Melanie bukan orang yang kucari. Ouh…

Bersambung! tunggu orang selanjutnya yaaaa

Janjiku Rahasiaku_part akhir_

4

Ya! Akhirnya sahabat terbaikku itu, mau memberitahukan dimana aku akan menerima kejutan ulang tahunku. Dia memberiku alamatnya dalam suatu kertas. Di kertas itu juga tertulis apa yang harus kulakukan setelah sampai disana. Aku diperintahkan datang kesana jam 5 sore. Mau tahu tulisan di kertas itu?

Hai, selamat ulang tahun Lyss. Oh, iya, bagaimana kalau aku memberimu sebuah kejutan istimewa? Pasti kamu mau,kan? Dan, aku memang merencanakan kejutan terbaik hanya untukmu. Terimakasih kalau kamu memang mau datang. Kalau kamu masih menganggapku sebagai sahabat, aku yakin kamu pasti datang. Walau kejutannya tidak bagus sekalipun. Aku akan menunggumu. Datang ke alamat ini, ya!

Jalan Melati Merah no. 13, rumahnya berpagar kayu tinggi. Kamu masuk aja. Aku di dalam, kok!

Hm, kejutanku lumayan banyak. Dan berupa misteri. Aku tahu kamu suka memecahkan misteri. Jadi, kupilih kejutan yang seperti ini. Yang harus kamu lakukan setelah masuk ke dalam rumah adalah;

  1. Carilah ruang tidur di lantai atas. Ruang tidur itu bersebelahan dengan balkon.
  2. Bukalah lemari yang ada di ruang tidur itu. Di sana ada 2 peti kayu. Kamu ambil yang ada huruf M di tutup petinya.
  3. Buka! Perhatikan apa yang ada disitu dengan baik-baik

Thanks

Kassy

Jam 5 sore. Aku berlari menuju alamat itu. Aku sudah membayangkan macam – macam. Kue tart, kado yang banyak, dll. Tapi, perasaanku mulai tidak enak saat sampai di depan rumah yang dimaksud. Seram banget rumahnya. Aku mulai tak yakin. Tapi aku ingat pesan Kassy. Kalau aku masih menganggapnya sahabat, aku harus datang. Aku masuk dengan ragu. Aku mengetuk, tapi tak ada yang menjawab. Langsung saja aku masuk ke rumah tua itu. Aku menuju ke lantai atas. Mencari ruang tidur yang dimaksud. Mudah sekali memecahkan misteri Kassy. Sekarang saja aku sudah menemukan peti bertulis huruf M. Aku segera membukanya dengan senyum lebar. Tapi, aku heran melihat isinya. Benda-benda berbau bayi. Seperti: boneka bayi, baju bayi, bantal bayi, selimut bayi, dll. Tunggu, ada surat.

Untuk orang tua bayi ini  …

Ini adalah anakku yang pertama. Dan dia tidak seperti yang kami harapkan, dia memiliki luka bakar dilengannya. Kami tidak ingin dia seperti itu. Akhirnya kami putuskan untuk menukar bayi anda dengan bayi kami. Kami namakan anakmu : Melysa. Dan anak kami yang asli : Kassy. Terimakasih banyak!

Orangtua kandung Kassy, orangtua angkat Lysa

Aku tertegun. Aku benar-benar telah membacanya. Sekarang aku tahu semuanya. Langsung saja aku  menjatuhkan kertas itu. Hatiku perih, tapi tetap tidak percaya. Tanpa sadar, aku menitikkan air mata. ‘Madesu’ (MAsa DEpan SUram), hanya itu yang ku bayangkan. Pikiranku kacau sudah. Janjiku pada Kassy untuk tidak memberitahukan bahwa dia bukan anak kandung (pada awal cerita), sekarang sudah tak ada gunanya lagi. Aku yang bukan anak kandung!!! Janjiku semula telah membongkar rahasia tentang diriku. Ya, mau berbuat apa lagi? Semua telah terjadi. Aku menuju balkon rumah ini. Dari sana, aku menatap matahari yang terbenam. Mungkin hari ini adalah hari akhir. Hari akhir dimana aku menjadi seorang Lyssa yang dulu. Sekarang aku sudah berbeda.

Hari ini bulat sudah 5 tahun kepergianku dari dunia. Ini semua karena sahabatku itu, Kassy. Dia datang kerumah itu dan mendorongku dari balkon yang tak berpagar itu. Aku berteriak, tapi sepertinya tidak ada yang mendengar. Aku berlumuran darah saat sampai di bawah. Aku jatuh di halaman belakang. Siapa yang mau masuk ke halaman belakang rumah tua ini untuk menolongku? Kurasa tidak ada. Jadi, entah jadi apa tubuhku yang kini tidak bernyawa lagi. Jadi, kesimpulannya adalah sahabatku itu sukses membuatku pergi dari dunia untuk selamanya, pada hari ulang tahunku…

The End

janjiku rahasiaku_part3_

0

Menuju kejutan ultah

Aku membuka kertas itu. dan isinyaa……. KOSONG?!?! APAAA?! wah, kurang asem nih orang.  Aku langsung mengejar Kassy. Ups, tapi dimana dia? Ah, entahlah. Lebih baik aku pulang saja. Berjalan kaki… capek! Enak nya tuh, jalan sambil makan es krim. wah, seger! Eh, eh, kok malah ngomongin es krim? udah balik lagi ke Lysa. Lysa masih berjalan sambil memikirkan Kasy yang membuatnya kesal. Tiba-tiba handphone miliknya berbunyi. SMS!

Haha, aku menang lagi kali ini. Kau tertipu! semua kertas yang kau ambil kosong. Hanya satu yang ada isinya. yang ada isinya itu untuk ulang tahunmu besok. Ups! alamak keceplosan! hehe, met ultah ya buat besok!

-kassy-

Astaga! aku kelupaan! besok kan aku ulang tahun. dia ternyata masih peduli sama aku. aku penasaran. Apa ya, yang akan dia berikan untukku?

Aku tidak sabar besok.

ck,ck,ck! Kasihan Lysa. dia tidak tahu kalau esok adalah hari terakhirnya! ups, keceplosan lagi! sst!!! kamu jangan bilang-bilang Lysa ya?

Ayam telah berkokok. hari ini hari ulang tahun Lysa. Lysa semangat sekali pagi ini. dia mandi cepat-cepat, sarapan, dll dengan semangat yang berkobar.

Beberapa langkah lagi dia sampai di kelasnya. Ya, sekarang dia sudah berada disekolah. Hari ini dia berangkat lebih pagi dari biasanya.

Di kelas, aku disambut meriah. Aku diperlakukan bagai ratu. haha, senang sekali aku. Dan perlakuan itu selesai sampai bel pulang sekolah berdentang. Lysa masih saja tersenyum senang. Karena dia menunggu kejutan dari sahabat terbaiknya, Kassy. Tak lama, Kassy datang.

“hai, kau tidak melupakan sesuatu, kan?”  Lysa mengingatkan Kassy

“tidak,” jawabnya singkat

“kau yakin? bagaimana dengan kejutan untukku?” tanya Lysa

“Ah, kau tak perlu tau,”

“Ah, ayolah, dimana? dimana kejutan itu?”

Aku membujuk Kassy terus-terusan. Lysa tak mau berhenti sampai Kassy memberitahunya.

mau tahu kelanjuttannya? tunggu part terakhir di post yaaaa!

Janjiku Rahasiaku _part 2_

0

Permulaan

 

“Kassy!” bentak Guru matematikaku yang galaknya bukan main, Pak Giro.

“Hah! Ya, pak?” Kassy sadar dari lamunannya, ia langsung membanting pensil yang dipegangnya tadi. Ia sepertinya sungguh terkejut.

“Mengapa kamu melamun?!” mata Pak Giro seakan mau keluar.

“Ma…, maaf,pak! Habisnya, pelajaran bapak membosankan. Saya,kan jadi ngantuk mendengarnya!” ups, Kassy keceplosan! Ia langsung membekap mulutnya. Mukanya ketakutan.

“argh! Keluar kamu dari kelas! Saat istirahat, temui bapak di kantor guru!”

“hah? Ya, ya, pak!” Kassy keluar kelas dengan wajah yang…tersenyum? Aku memandanginya kasihan, tapi sekaligus heran. Mengapa dia tersenyum? Sudahlah…, tapi, kuharap, dia akan baik-baik saja.

Pelajaran kembali berlangsung. Beberapa posisi duduk dipindah Pak Giro. Termasuk aku. Aku duduk di tempat yang tadi diduduki Kassy.

Saatnya istirahat…

Aku membersihkan kolong meja baruku. Ya, benar saja, kolongnya super duper penuh. Bukan penuh dengan uang, tapi dengan sampah kertas. Ternyata, Kassy menggambar dan menulis-nulis di kertas itu saat pelajaran Pak Giro. Aku baru saja akan membuka salah satu kertasnya. Tapi…

“Hey! Jangan dibuka!” itu teriakan Kassy. Ups, Kassy telah kembali dari kantor guru dan aku ketahuan! Gawat…. Tapi untungnya, aku berhasil menyembunyikan beberapa kertas disaku seragamku. Sisanya berhasil dia ambil.

“berikan padaku semua kertas yang kamu sembunyikan! Itu kertasku!” kata Kassy, sambil mencoba mengambil kertas disakuku.

“enak saja! Ini sekarang jadi mejaku. Artinya, semua barang yang ada di meja ini milikku.”

“ah, sini dong!”

“eits, tapi ada syaratnya….”

“apa?”

“ aku boleh lihat kertasnya. Bagaimana? Setuju?”

“jangan!”

“ya, sudah!” aku melangkah meninggalkannya. Tapi, dia mencegatku.

“okey, okey, tapi satu saja! Titik!”

“ehm, iya deh,” aku mengambil satu kertas secara asal. Dan memberikan yag lain pada Kassy. Isinya…

Eits! Isinya gak ada di part ini! Kalau kamu mau lihat isinya…. Di part 3! Rahasia part 1 dan part 2 bakal terbongkar! Tunggu saja… okey?

Bersambung….

 

Janjiku Rahasiaku

0

_PART 1_

–perkenalan–

“tapi ini rahasia, ya? kamu harus janji untuk tidak menceritakan hal tadi pada siapapun!” kata Kasy

” tentu saja akan aku jaga rahasia tadi. Aku kan, bukan ‘mulut ember’ alias comel. percaya deh sama aku!” janjiku

“bagus!” kata Kasy lagi, sambil mengacungkan jari kelingkingnya dan mengajakku untuk janji kelingking.

Upss… sepertinya ceritanya mulai terlalu jauh. Kita ulang loncat dulu ke cerita awal…

Hy, aku Melysa alias Lysa. Aku berumur 11 tahun, bulan November nanti. sekolahku di Sekolah Mandiri. Aku kelas 6. Aku anak yang cukup popular disekolah. Padahal aku tuh gak cantik (gak jelek juga), aku juga gak pinter-pinter amat. Mau tahu kenapa aku cukup popular disekolah? itu berkat ke ‘lebay’ an ku. haha…. Asal tahu saja, walau aku lebay, aku tetap punya banyak teman dan sahabat. Tapi, setiap kita punya sahabat, pasti kita juga bakalan punya ‘musuh’. Gak semua orang seneng sama keberadaan kita, kan? oya, walau aku lebay, aku gak comel, lho! aku pandai menyimpan rahasia… yah, begitulah aku…

yah, perkenalan cuma sampai disitu dulu. cerita ini akan ditulis sedikit-sedikit supaya para pembaca penasaran. Di part selanjutnya, cerita yang sesungguhnya bakal dimulai! ditunggu saja…

bersambung…