Untaian Kata UntukMu

0

Kadang terlintas dalam benakku,

Mengapa ada kehidupan?

Mengapa kita harus hidup di dunia ini?

Dan mengapa salib yang kupikul ini teramat berat?

Kadang aku iri, karna banyak kekurangan yang kumiliki

Kadang aku sedih, sebab hidup ini mengecewakan

Tapi sangat jarang aku berlutut di hadapan-Nya

Seharusnya aku sadar kalau semua ini adalah anugerah dari-Nya

Anugerah dari Tuhan yang harus disyukuri

Tiba-tiba, petir menggelegar di depan rumahku.

Aku menatapnya, amat terkejut

Tapi, berkat petir itu, aku kembali berlutut

Aku memejamkan mata dan mulai berdoa…

Dunia seakan menolak pendapatku tadi. Dan ternyata pendapatku memang salah. Aku mengerti. Hidup yang Kau berikan ini adalah  anugerah. Dan salib yang kupikul ini tidak lebih berat dari salib orang lain.Sungguh sesal hati ini Tuhan, karena aku telah meragukan-Mu. Kupikir lagi, keirianku tak beralasan, karena orang pasti diberikan kelebihan dari Tuhan. Kesedihanku juga tak ada guna. Lebih baik aku seperti ini, berlutut dan memuji Engkau. Terimakasih atas pengajaranMu hari ini. Amin.

Aku tersenyum bahagia

Tuhan telah membuka mataku untuk tidak iri hati dan selalu bersyukur…

Advertisements

Good Bye

0

Mobil hitam mengkilap berhenti di depan pagar sebuah rumah megah. Langsung saja seorang pelayan datang dan membukakan pagar. Mobil itu masuk. Seorang anak berambut panjang turun dari mobil itu. Seorang pelayan kembali menghampirinya dan membawakan tas sekolahnya.

Kenalkan, anak berambut panjang itu aku. Namaku adalah Mona. Aku memang seorang anak dari orangtua yang kaya raya. Kedua orang tuaku orang sibuk. Mereka jarang ada di rumah. Terkadang, aku merasa kurang kasih sayang. Sudahlah, itu tidak usah dipikirkan.

“Nona, makanan telah dihidangkan. Silahkan ke ruang makan,” ajak salah satu pelayan.

“Hah? Makan? Uh, sorry ya!” jawabku sambil berlari ke kamar tidurku.

Asal kalian tahu,ya. Aku ini amat teramat tidak suka dengan yang namanya ‘makan’. Entah kenapa, bawaannya sudah malas duluan. Mungkin itulah yang membuatku tidak gemuk (kurus). Aku berbaring di tempat tidur. Sesaat kemudian, handphone-ku bordering. Ada sms masuk.

Mon, jangan lupa lusa. Jangan telat

-Lisa-

Oh, iya! Lusa,kan ada ‘baksos (bakti sosial)’ . Paling males ikutan baksos. Pasti nanti ke tempat – tempat kumuh yang panas. Euh, bisa-bisa aku jadi alergi. Aku harus cari alasan supaya lusa tidak ikut baksos. Berpikir, berpikir, berpikir *satu jam telah berlalu*, ya! Aku tahu. Aku akan beralasan banyak les atau sakit kepada Lisa. Dan aku tidak akan ikut. Aku segera menelpon Lisa dan membicarakan tentang ‘les-les’ku. Tiba-tiba, papaku membuka pintu kamarku. Aku kaget dan mematikan teleponku. Rupanya, papa mendengar semua percakapanku. Akhirnya papa menyuruhku untuk izin dari les. Aku hanya bisa pasrah.

***

Persis seperti yang ku bayangkan. Di tempat baksos ini puanaasss banget. Gerah. Kalau begini, kulitku bisa jadi hitam. Sudah jam 3 sore, belum selesai juga. Aku beralasan ke toilet. Padahal, aku mencari tempat berteduh. Aku berjalan mendekati pohon rindang. Tapi, aku menabrak seseorang. Ia cantik, tapi kumuh sangat. Dia memandang lapar roti yang ku genggam. Aku menyodorkan roti itu. Dia mengambilnya dengan tidak percaya. Aku meyakinkannya sampai akhirnya dia mau mengambil roti itu. Dia sampai bersujud di kakiku. Aku heran sekali saat melihat dia makan dengan lahap. Padahal, aku sendiri malas memakannya.

***

Aku sekarang sudah bernafsu makan. Ini semua karena persahabatanku dengan anak cantik itu. Namanya Griselda. Dia membawa pengaruh positif terhadapku. Dia sering ku ajak ke rumahku. Dia ku berikan barang-barang baru supaya dia bisa hidup normal. Dia juga aku ajari membaca. Supaya dia bisa sekolah lagi. Dia baik sekali. Aku sungguh tidak pernah menyangka punya sahabat sebaik dia.

***

Rencananya, Griselda akan datang ke rumahku sore ini. Aku berjanji akan mengajarkannya bahasa Inggris. Aku menunggunya lama sekali. Dia belum datang juga. Tiba-tiba, rumah sakit ‘Hidup Sehat’ menelponku. Aku heran. Ada perlu apa? Aku mengangkat telponnya. Sesaat kemudian aku menjatuhkan gagangg telpon. Aku menitikkan air mata. Ada apa? Griselda ada di rumah sakit dengan keadaan yang mengkhawatirkan. Dia ditemukan di tengah jalan. Aku meminta supir mengantarkan aku ke rumah sakit. Aku mencari dokter yang memeriksa Griselda. Aku juga membayar administrasinya dulu, supaya bisa bertemu Griselda. Kemudian, aku diantar suster ke ruangan dokter. Dokter memberitahuku bahwa Griselda kekurangan gizi. Dan Griselda terlalu bekerja keras sehingga kelelahan serta lapar. Ternyata, Griselda bersusah payah mengumpulkan uang supaya bisa memberikan kado ulang tahun padaku besok. Aku kembali menangis tak percaya saat dokter bilang, ‘Griselda sudah pergi untuk selamanya’. Aku meminta dokter mempertemukan aku dengan Griselda untuk yang terakhir kalinya. Aku hanya menatapnya dari kaca ruangan. Aku tidak kuat membendung air mataku. Aku tidak pernah menyangka, sahabatku itu pergi lebih dulu. Sahabatku yang membuat hidupku berubah. Berkat dia, aku jadi seperti sekarang ini. Berbeda dengan yang dulu. Seekali lagi aku melihat sahabatku itu tersenyum cantik. Mungkin dia masih menantikan janji terakhirku. Untuk mengajarinya bahasa Inggris. Dan sekarang, dia mendapatkannya. Kalimat bahasa Inggris pertama dan terakhirnya : Good bye…

Nothing is Perfect 4

0

“congratulation,” ucapku

“thanks,” jawabnya sigkat

Dovan langsung berlari menjauh dariku. Sepertinya dia mau pulang ke rumahnya. Saking penasarannya, aku membuntutinya. Rumah Dovan agak jauh dari gerbang perumahan. Ternyata, rumahnya mewah banget. Jadi dia orang kaya? semoga saja!

“Dovan, kamu sudah pulang nak?” sapa seorang ibu dari dalam rumah, “bagaimana pertandingannya?”

“AH, bawel banget sih! Gak usah banyak tanya deh! Cape nih, heuuhh!” bentak Dovan.

“ya ampun, nak…. Ibu hanya bertanya,” jawab wanita itu yang ternyata ibu Dovan.

Aku kaget benar. Dia tidak sopan dengan orang tuanya. IH, gemes banget ngeliatnya. Aku langsung berlari meninggalkan rumah Dovan. Aku berlari menuju taman tadi. Aku duduk di bangku taman.

Dalam hati, aku berbicara sendiri…

Uh, kesel banget. Ada gak sih orang sempurna itu? Aku telah menyelidikki banyak orang. Tapi, sia-sia saja. Apa…, aku sudahi saja pencarian ini? hmm…

Berfikir…, berfikir…, Astaga!

Maafkan kesalahan yang kuperbuat ini, Tuhan. Mengapa aku mau mencari orang yang menyamai Tuhan? Sempurna bukan untuk manusia. Ya, aku memang aneh. Untuk apa aku mencari orang sempurna? Sadarkah kau? Tuhan menciptakan manusia tidak ada yang sempurna…

Sekarang aku tersenyum. Aku pulang ke rumah dengan senyum lebar. Aku amat bahagia. Karna aku, telah temukan jawabannya…

The End

Nothing is Perfect_3

0

-Dovan-

Aku berlari-lari kecil menuju taman dekat rumahku. Aku ingin melihat pertandingan basket antar perumahan di taman. Aku mempercepat langkahku. Tidak sabar lagi untuk mendukung tim basket perumahanku.

***

Aku telah sampai di taman. Banyak sekali orang yang datang. Pertandingan akan segera dimulai. Para pemain memasuki lapangan (yang ada di taman). Aku semakin bersemangat. Tapi, tiba-tiba ada yang menyenggolku. Dia sepertinya terburu-buru. Aku menatap ke arahnya. Waw! Aku tertegun. Dia amat tampan.
“Eh, maaf ya. Aku tidak sengaja”, katanya
“Ah, tidak apa-apa”, kataku “Siapa namamu?”
” Dovan,” jawabnya singkat sambil berlari ke lapangan.
Ternyata, dia adalah kapten tim basket dari tim lawan. Pantas saja aku tidak pernah melihatnya.Langsung terlintas dalam benakku kalau dia bisa jadi orang yang kucari itu. Orang yang sempurna tidak harus perempuan kan?

***

Karena memikirkan Dovan, aku jadi tidak konsen mengikuti pertandingan. Entah kenapa, aku terus melamun sampai pertandingan selesai. Dan kau tau siapa yang menang? TIM DOVAN! Tapi, apa reaksiku? biasa saja. Padahal tadinya aku sangat mengharapkan tim Dovan yang kalah. Sudahlah, tak usah lagi dipikirkan. Aku langsung mengejar Dovan, mengucapkan selamat padanya.

***

Friend

0

Indeed, without friends, this world feels empty

Without friends, life is bland taste, no bitter and sweet

Without the presence of friends too, I’ll keep her head down

Without him I would never smile

Thanks a lot, friend

Friendship

We are friends

Hidupku Sebagai Penyihir _part 1_

2

Penyihir. Mungkin kalian sudah membayangkan atraksi sihir yang mengagumkan. Aku juga berpikir seperti itu. Tapi, nyatanya aku tidak bisa melakukan sihir. Memang memalukan. Karena kedua orangtuaku adalah seorang penyihir hebat. Ayahku keturunan darah ruthless. Sedangkan ibuku keturunan darah spiteful. Tapi sudah 11 tahun aku berlatih, aku tetap tidak bisa melakukan sihir…

Aku anak kelas Mx-1. Aku Kashfira. Panggil aku Fira. Umurku 11 tahun. Aku seorang penyihir. Ya, bisa dibilang begitu karena orangtuaku penyihir. Namun, seperti yang sudah aku ceritakan, aku tidak bisa melakukan ‘sihir’. Padahal aku sekolah di sekolah sihir terbaik di kota Magix. Entah kenapa, setiap aku mencoba, aku selalu gagal. Guruku selalu berkata kalau aku ‘belum siap’ menjadi seorang penyihir. Makanya aku tidak bisa ber-sihir.
***

Aku berlari melewati koridor sekolah. Aku sudah terlambat SANGAT. Andai aku bisa menghentikan waktu dengan sihir. Jadi, tidak perlu ngos-ngosan kayak gini. Kelasku di ujung koridor. Masih jauh. Satu koridor di sekolahku isinya bisa beratus-ratus ruangan loh. Makanya capek kalo gak naik sapu terbang. Tapi percuma, mengendalikan sapu terbang kan harus pakai sihir. Sementara aku tidak bisa melakukan sihir. Sengsara banget saya….

Aku dihukum membersihkan kuali sekolah sampai mengkilap. Asal tahu saja ya, kualinya itu kuuuooootttooorrr banget. Soalnya itu dipakai untuk praktek ramuan. huh, taukan bahan-bahan ramuan sungguh sulit dibersihkan. Mana ada 3 kuali lagi!

hehe, ini cerbung terbaru di blog ini. Masih part 1, tunggu part selanjutnya, ya! thanks dah baca…

Nothing is Perfect

2

Aku selalu membayangkan seseorang yang sempurna. Ia yang baik hati, pintar, sopan, kaya raya, cantik, postur tubuh bagus, pokoknya yang perfect banget deh! Aku berusaha mencari orang itu. Inilah kisah tentang pencarianku.

-Melanie-

Aku berkenalan dengan seseorang yang bernama Melanie. Dia cantik sekali. Aku berusaha mencari asal-usulnya. Aku mencari di facebook. Aku tulis: Melanie Kiley. Ada! Aku senang sekali. Aku meng-add dia. Lalu aku melihat-lihat wall-nya. BAnyak ucapan selamat. Ternyata, dia mendapat juara umum pertama di sekolahnya. Aku semakin bersemangat. Aku ingin ber-chatting dengannya. Kuharap dia online. Aku menunggu agak lama. Akhirnya Melanie menyapaku di facebook:

Melan: Hai, makasih udah nge-add

Aku: YA, sama-sama. Eh, ngomong-ngomong… aku mau tanya sesuatu nich

Melan: Apa?

Aku: Aku ingin ke rumahmu. Dan bertemu dengan keluargamu

Melan: Jangan!!!!!!!! tolong jangan!

Aku: kenapa?

Melan: Tapi, kamu janji ya, untuk tidak bilang siap-siapa

Aku: iya, trus kenapa?

Melan: Sebenarnya aku tinggal bersama nenek-kakeku. Orangtuaku sudah bercerai sejak lama. Aku sendiri juga rindu dengan mereka…

Aku: ouh, maaf kalau begitu. Aku sama sekali tidak tahu. Ya, sudah aku off dulu,ya… bye!

Tak kusangka. Aku langsung melihat info-nya di facebook. Dia bersekolah di sekolah yang tidak terlalu bagus. Biasa saja. Pantas. Ya, Melanie bukan orang yang kucari. Ouh…

Bersambung! tunggu orang selanjutnya yaaaa