Good Bye

0

Mobil hitam mengkilap berhenti di depan pagar sebuah rumah megah. Langsung saja seorang pelayan datang dan membukakan pagar. Mobil itu masuk. Seorang anak berambut panjang turun dari mobil itu. Seorang pelayan kembali menghampirinya dan membawakan tas sekolahnya.

Kenalkan, anak berambut panjang itu aku. Namaku adalah Mona. Aku memang seorang anak dari orangtua yang kaya raya. Kedua orang tuaku orang sibuk. Mereka jarang ada di rumah. Terkadang, aku merasa kurang kasih sayang. Sudahlah, itu tidak usah dipikirkan.

“Nona, makanan telah dihidangkan. Silahkan ke ruang makan,” ajak salah satu pelayan.

“Hah? Makan? Uh, sorry ya!” jawabku sambil berlari ke kamar tidurku.

Asal kalian tahu,ya. Aku ini amat teramat tidak suka dengan yang namanya ‘makan’. Entah kenapa, bawaannya sudah malas duluan. Mungkin itulah yang membuatku tidak gemuk (kurus). Aku berbaring di tempat tidur. Sesaat kemudian, handphone-ku bordering. Ada sms masuk.

Mon, jangan lupa lusa. Jangan telat

-Lisa-

Oh, iya! Lusa,kan ada ‘baksos (bakti sosial)’ . Paling males ikutan baksos. Pasti nanti ke tempat – tempat kumuh yang panas. Euh, bisa-bisa aku jadi alergi. Aku harus cari alasan supaya lusa tidak ikut baksos. Berpikir, berpikir, berpikir *satu jam telah berlalu*, ya! Aku tahu. Aku akan beralasan banyak les atau sakit kepada Lisa. Dan aku tidak akan ikut. Aku segera menelpon Lisa dan membicarakan tentang ‘les-les’ku. Tiba-tiba, papaku membuka pintu kamarku. Aku kaget dan mematikan teleponku. Rupanya, papa mendengar semua percakapanku. Akhirnya papa menyuruhku untuk izin dari les. Aku hanya bisa pasrah.

***

Persis seperti yang ku bayangkan. Di tempat baksos ini puanaasss banget. Gerah. Kalau begini, kulitku bisa jadi hitam. Sudah jam 3 sore, belum selesai juga. Aku beralasan ke toilet. Padahal, aku mencari tempat berteduh. Aku berjalan mendekati pohon rindang. Tapi, aku menabrak seseorang. Ia cantik, tapi kumuh sangat. Dia memandang lapar roti yang ku genggam. Aku menyodorkan roti itu. Dia mengambilnya dengan tidak percaya. Aku meyakinkannya sampai akhirnya dia mau mengambil roti itu. Dia sampai bersujud di kakiku. Aku heran sekali saat melihat dia makan dengan lahap. Padahal, aku sendiri malas memakannya.

***

Aku sekarang sudah bernafsu makan. Ini semua karena persahabatanku dengan anak cantik itu. Namanya Griselda. Dia membawa pengaruh positif terhadapku. Dia sering ku ajak ke rumahku. Dia ku berikan barang-barang baru supaya dia bisa hidup normal. Dia juga aku ajari membaca. Supaya dia bisa sekolah lagi. Dia baik sekali. Aku sungguh tidak pernah menyangka punya sahabat sebaik dia.

***

Rencananya, Griselda akan datang ke rumahku sore ini. Aku berjanji akan mengajarkannya bahasa Inggris. Aku menunggunya lama sekali. Dia belum datang juga. Tiba-tiba, rumah sakit ‘Hidup Sehat’ menelponku. Aku heran. Ada perlu apa? Aku mengangkat telponnya. Sesaat kemudian aku menjatuhkan gagangg telpon. Aku menitikkan air mata. Ada apa? Griselda ada di rumah sakit dengan keadaan yang mengkhawatirkan. Dia ditemukan di tengah jalan. Aku meminta supir mengantarkan aku ke rumah sakit. Aku mencari dokter yang memeriksa Griselda. Aku juga membayar administrasinya dulu, supaya bisa bertemu Griselda. Kemudian, aku diantar suster ke ruangan dokter. Dokter memberitahuku bahwa Griselda kekurangan gizi. Dan Griselda terlalu bekerja keras sehingga kelelahan serta lapar. Ternyata, Griselda bersusah payah mengumpulkan uang supaya bisa memberikan kado ulang tahun padaku besok. Aku kembali menangis tak percaya saat dokter bilang, ‘Griselda sudah pergi untuk selamanya’. Aku meminta dokter mempertemukan aku dengan Griselda untuk yang terakhir kalinya. Aku hanya menatapnya dari kaca ruangan. Aku tidak kuat membendung air mataku. Aku tidak pernah menyangka, sahabatku itu pergi lebih dulu. Sahabatku yang membuat hidupku berubah. Berkat dia, aku jadi seperti sekarang ini. Berbeda dengan yang dulu. Seekali lagi aku melihat sahabatku itu tersenyum cantik. Mungkin dia masih menantikan janji terakhirku. Untuk mengajarinya bahasa Inggris. Dan sekarang, dia mendapatkannya. Kalimat bahasa Inggris pertama dan terakhirnya : Good bye…

Advertisements